Silahkan hubungi kami

Selasa, 07 Oktober 2014

Idola Sylva “Sosok yang ku cari”





Nama                         : Dynce “Mbah Jono”
TTL                             : Jawa Timur, Tulungagung, 23 Oktober 1935
Alamat                       : jln. Desa Batu Hapu, kecamatan Hatungun, kabupaten Tapin
Nama Suami             : alm. Martin Sujono
Makanan favorit       : Ikan Asin, Tahu tempe
Minuman favorit      : coffe Mix, Pepsi , Puple Orange

          Seorang wanita paru baya dengan keriput di wajahnya, senyumnya selalu manis menyapa setiap anggota Mapala Sylva yang datang. Bernyanyi dengan bahasa belanda itu keahliannya karena beliau keturunan dari Belanda. Berbaur, bercanda, memberikan nasehat-nasehat santai diberikannya setiap duduk santai bersama. Walaupun umur beliau yang sudah lanjut usia, beliau selalu terlihat bersemangat menyembunyikan kelelahan hidupnya. Beliau hidup bersama seorang anak laki-lakinya yang sering disapa “Mas Koko”. Tinggal di kalimantan sejak 1975 bersama almarhum suaminya, bersama 5 anak putra bernama Edi, Agus, Alex, Koko, dan Yohanes (alm.). dan seorang putri bernama Magdahlena.
          “Sejak 1980 saya sudah mengenal Mapala Sylva, mereka selalu melakukan berkemah di batu hapu dekat rumah saya, dulu masih ada almarhum suami saya. Jangan berani-berani dengan orang tua, Orang baik pasti dibalas kebaikkannya.” Tutur Mbah Jono disela-sela santai bersama anggota di Sekertariat Mapala Sylva.
          Beliau ini adalah anggota Kehormatan Mapala Sylva yang sudah dianggap sebagai orang tua dari semua anggota Mapala  Sylva. Dalam hidupnya banyak hal yang diberikan Mbah Jono untuk Mapala Sylva, banyak jasa yang mengalir sepanjang perjalanan terbentuknya Mapala Sylva. Terimakasih Mbah Jono, we always with you. (anggota Mapala Sylva Fakultas Kehutanan Unlam Banjarbaru)

Cave Tubing Gua Pindul dan Rafting Sungai Oyoo




  
      Mungkin bila menelusuri gua atau masuk kedalam gua, dan menyusuri sungai dengan ban atau perahuu karet itu sudah menjadi hal yang biasa. Namun, kali ini mereka mencoba sesuatu yang berbeda, menelusuri gua yang dialiri sungai dengan ban karet. (24/01/14) Kali ini Mapala Sylva Fakultas Kehutanan Unlam Banjarbaru tiba disebuah tempat bernama Gua Pindul, tepatnya di Karangmojo, Gunung Kidul, Yogyakarta. Sebuah gua yang terkenal dengan sensasi penelusuran gua menggunakan ban dan pelampung, sambil menyulusuri gelapnya lorong gua yang dipenuhi hiasan ornament-ornament gua, seperti stalaktit dan stalakmit yang indah tuk dipandang dan nikmati. Gua Pindul itu sendiri merupakan rangkaian 7 gua dengan aliran sungai bawah tanah yang ada di Desa Bejiharho, karangmojo.
        Selama penyusuran gua, kurang lebih 45 – 60 menit mereka menyusuri sungai dengan gelapnya lorong gua sepanjang 300 m menggunakan pelampung, dan kedalamannya hampir mencapai 12 meter. Mereka tidak sendiri, mereka masuk ditemani pemandu yang sudah paham betul dengan keadaan lokasi gua pindul. Petualangan menyusuri gelapnya gua pindul ini memadukan aktifitas body rafting dan caving yang di kenal dengan istilah cave tubing.
        “Selama kita didalam gua, kita banyak diceritakan oleh pemandu tentang asal mula gua dan kenapa diberi nama gua pindul, ditambah mitos-mitos yang menjaidi kisah turun temurun dari masyarakat desa setempat, dimana berkaitan dengan kisah pengembaa Joko Singulung mencari ayahnya, Gua Pindul ini berasal dari kata “pipi gebendul” karena si Joko saat masuk ke dalam gua terbentur oleh batu, ditambah ada beberapa mitos yang dipercayai apabila terkena air dr oornament tersebut akan terpacncar kecantikannya” Jelas Heni Mupidatus S. anggota Mapala Sylva yang menjadi peserta penelusuruan Gua Pindul Mapala Sylva. Bukan hanya itu saja, pemandu juka akan menjelaskan ornament-ornament sepanjang yang ditemui. Kenikmatann yang berbeda saat melihat kuasa Tuhan YME menciptakan batu-batu besar yang membentuk ornament-ornament indah, proses terbentuknya pun tak secepat yang dikira, perlu puluhan bahkan ratusan tahun untuk menjadi sebuah ornament. Dengan tangan-tangan kecil lainnya diatap-atap gua terlihat lukisan alami yang dihasilkan oleh kelelawar-kelelawar yang menjadi penghuni gua.
        Setelah menikmati indahnya gua pindul, kali inii mereka disajikan dengan petualangan mengarungi sungai oyoo sepanjang 5-6 km dengan arus yang lumayan besar dan banyak terdapat batu-batuan sungai. Di sungai oyoo terdapat air terjun yang tingginya kurang lebi 10 meter, menjadi salah satu keindahan sungai oyoo.
        “Sensasinya memang berbeda, menelusuri gua dengan cave tubing ini menjadi suatu pengalaman ditambah ilmu baru dimana pemandu menjelaskan secara detile tentang gua, bukan hanya sensasi dalam gua yang saya dapatkan, sensasi saat terjun dari atas air terjun juga sangat menyenangkan. Ini salah satu tempat wisata dan tempat belajar tentang alam yang bagus, apalagi tempat ini sangat memikat wisata asing dan local untuk datang, seperti halnya kami (Mapala Sylva)” Jelas Rizky Surya Negara, anggota Mapala Sylva.
        Tariff yang ditawarkan tak begitu mahal, hanya membayar 30.000,- per orang, untuk rafting 45.000,- dan apabila ingin memakai jasa dokumentasi di dalam gua, maka kita bisa menyewa 100.000,- per kegiatan pengambilan foto. Fasilitas yang disedikan diantaranya perlengkapan cave tubing, pemandu, kudapan setelah pengarungan selesai. Heni, Rizky, Ade, Lutfhianita, Nina, Putri dan Windi meyakinkan bahwa bukan pilihan yang salah apabila ingin melakukan cave tubing di Gua Pindul, sangat menyenangkan dan menjadikan sebuah sensasi baru yang wajib dirasakan. (yumpe)

Pengibaran Bendera di Tebing Batu Laki


         Bermacam cara warga Indonesia lakukan untuk memperingati hari kemerdekaan, dan salah satunya pengibaran bendera merah putih di tebing Batu Laki oleh Mapala Sylva. Kali ini kembali lagi mereka (Mahasiswa Pencinta Alam Mapala Sylva Fakultas Kehutanan UNLAM) berada didepan tebing besar yang orang banyak sebut “Batu Laki”. Tebing besar yang menjadi tempat pilihan anak-anak Mahasiswa Pencinta Alam untuk melakukan pemanjatan. Lokasinya yang berada di kawasan pegunungan Meratus dan berada di antara desa Malutu dan Desa Batu Laki, 14 KM dari kota kandangan Hulu sungai selatan. Dan kali ini pemanjatan batu laki kembali dimulai.
          17 Agustus 2014. Dengan peralatan lengkap dan memenuhi standar, team pemanjatan Mapala Sylva yang terdiri dari anggota aktif Mapala Sylva Awaludin, Bani Rahman, Endang, Masrupah dan seorang wana albisya Mapala Sylva Avent melakukan pemanasan serta doa sebelum memulai. Pada pukul 12:35 mereka memulai saja mngeluarkan peralatan panjat yang dibawa, sang leader (pemimpin) awaludian melakukan orientasi jalur yang akan di panjat, pada pukul 1:00 pemanjatan di mulai dengan sang pembilay bani rahman juga sebagai cleaner (pembersih alat), pemanjatan di tebing yang di lakukan sangat  sedikit susah karena jalur tebingnya aga licin dan point-poin pada tebing sedikit. Kurang lebih dua jam leader sampai di atas dan pemanjat berikutnya bani rahman sbgai cleaner, setelah sampai atas di lanjutkan pemanjatan oleh endang, dan disusul avent yang terakhir di urutan pemanjatan. Setelah smuanya di atas kami pun turun dengan cara vertical discander(turun) secara bergantian.
          “Semoga dengan pemanjatan ini dapat meningkatkan pemanjatan-pemanjatan tebing yang dapat menjadi icon Kal-sel sebagai salah satu lokasi yang tersedia tebing dan belum termanfaatkan sebagai media wadah latihan. Serta untuk menumbuhkan semangat pemanjat untuk memperingati hari kemerdekaan ini” Tutur kata Avent saat ditanya kesan dan pesan dalam melakukan kegiatan ini.
          “Bukan hanya sekedar memanjat, kami disini mengibarkan bendera merah putih dengan tujuan memperingati hari kemerdekan, kenapa kami lakukan di tebing ini, karena kami berpikir mungkin sudah banyak orang mengibarkan bendera dipuncak gunung dan tiang bendera, kenapa tidak untuk kali ini kami yang bergelut didunia panjat, ingin mengibarkan dengan bangga bendera merah putih ditebing” Jelas Bani Rahman dengan bangga.
          Beberapa kali Mapala Sylva sudah pernah melakukan pemanjatan di Batu Laki, dan kali ini Mapala Sylva melakukan pemanjatan di Batu Laki sekaligus melakukan pengibaran bendera merah putih untuk memperingati kemerdekaan Republik Indonesia ini. (endang/yumpe)


JENDELA SYLVA

JENDELA SYLVA


     Jendela Sylva? Mungkin terdengar baru ditelinga dan asing bagi para pembaca sekalian tentang apa itu Jendela Sylva atau siapa mereka, apa yang mereka lakukan ? kali ini mereka memperkenalkan apa itu Jendela Sylva dan siapa saja orang-orang di Jendela Sylva itu. Jendela Sylva adalah suatu team redaksi yang bergelut dibidang Jurnalistik, publikasi dan dokumentasi, dengan dibawah naungan organisasi Mapala Sylva Fakultas Kehutanan UNLAM Banjarbaru. Mereka bergerak dalam mengamati keadaan sekitar, mengumpulkan semua bahan, melakukan forum diskusi dan merangkai menjadi sebuah karya tulis. Mereka mulai aktif dan mulai menerbitkan artikel pertama pada tanggal 7 Desember 2011, yang digawangi oleh anggota aktif Mapala Sylva, diantaranya adalah Nor Ikhlas, Ayu Marianti Putri, Putri Nadilla, Nina Rizki, Heni Mupidatus Sakiah, Risalatul Khoir dan Luthfianita Hayani, beserta beberapa anggota aktif lainnya.
     Mereka adalah orang-orang yang berperan aktif dalam pembuatan mading Mapala Sylva yang berlokasi di lantai 1 kampus Fakultas Kehutanan Unlam banjarbaru, majalah bulanan Mapala Sylva, dan beberapa artikel-artikel tentang kegiatan. Semua ini berawal dari ajakan seorang editor redaksi salah satu media cetak Banjarmasin untuk membuat suatu team redaksi, dan ini menjadikan motivasi Jendela Sylva untuk terus aktif membuat karya tulis, dan mulai bekerjasama dengan beberapa media cetak lokal dan nasional untuk menerbitkan beberapa artikel.
     “Saya sangat mendukung dengan adanya team redaksi ini, karena sangat membantu untuk mengembangkan kreatifitas anggota dalam menyalurkan hobi-hobi dibidang jurnalistik.” Jelas Baharudin N.E. ketua umum Mapala Sylva, Ia juga berharap untuk tetap adanya re-generasi di bidang jurnalistik, publikasi dan dokumentasi untuk tidak terputusnya tempat penyalur kreatifitas, dan kalau bisa terus aktif dalam penerbitan artikel-artikel untuk memberi informasi kepada mahasiswa dan masyarakat sebagai pembaca.
     “Bukan hanya masalah di reginonal kalimantan dan kampus yang diangkat, tetapi seluruh Indonesia untuk memberikan informasi dari kejadian-kejadian yang terjadi, juga ada informasi yang update untuk membantu, semoga majalah-majalah yang diterbitkan bukan hanya bisa di publikasikan ke tingkat fakultas, akan tertapi Universitas serta ke masyarakat luar.” Jelas Ade Rusmana, anggota Wana Albisya dan sekaligus mahasiswa S2 Fakultas Kehutanan Unlam Banjarbaru.
     Sudah 3 tahun lebih mereka menuliskan tulisan-tulisan, seiring itu pula banyak harapan-harapan yang telah disampaikan orang-orang yang menjadi pembaca setia artikel-artikel yang dibuat Jendela Sylva, ini menjadikan salah satu motivasi besar untuk menunjang kinerja Jendela Sylva untuk terus mengembangkan dan menambah kreatifitas dari anggota-anggota Jendela Sylva tersebut untuk terus berkarya dibidangnya. (Jendela Sylva)